Gue pernah duduk sebelas jam di bus antar kota. Tiba-tiba kaki kanan rasanya kayak ditusuk-tusuk jarum, mau berdiri pun sempoyongan. Klasik banget, kan? Tapi yang bikin gue mikir: ternyata bukan cuma soal "duduk kelamaan" doang. Ada beberapa kebiasaan receh yang gue lakuin sebelum dan selama perjalanan yang justru bikin masalah ini makin parah. Dan kayaknya jarang banget yang bahas ini.
Kebanyakan orang kalau ngomongin kesehatan saat bepergian, yang dibahas pasti soal mabuk perjalanan, makanan, atau jet lag. Padahal ada satu hal yang hampir semua traveler alami tapi dianggap remeh: masalah sirkulasi darah karena kebiasaan kecil yang kita anggap sepele. Nah, ini yang mau gue bahas.
Kenapa Kaki Jadi Korban Pertama di Perjalanan Panjang?
Coba inget lagi posisi duduk kamu waktu di pesawat, kereta, atau bus. Kaki nggak bisa selonjor bebas, lutut tertekuk, dan sering banget kita duduk dengan satu kaki dilipat di bawah bokong. Posisi kayak gini bikin pembuluh darah di area lipatan lutut dan paha kejepit. Darah yang seharusnya lancar balik ke jantung jadi melambat.
Baca juga: Sepatu Kotor Sepulang dari Sawah: Kebiasaan Kecil yang Sering Dilupakan Warga Kampung
Yang jarang disadari: kita sering mikirin posisi duduk nyaman, tapi lupa mikirin posisi duduk yang sehat. Dua hal ini beda lho. Duduk nyempil di kursi dekat jendela dengan kaki nempel dinding mungkin nyaman buat tidur, tapi lumayan nyiksa sirkulasi darah selama berjam-jam.
Belum lagi kalau kamu tipe yang males minum air putih di perjalanan karena takut bolak-balik ke toilet. Ini kebiasaan kecil yang efeknya besar. Kurang cairan bikin darah lebih kental, dan itu memperparah rasa kesemutan serta pegal.
Kebiasaan Kecil Sebelum Berangkat yang Sering Kelewat
Ini bagian yang paling jarang dibahas orang. Kebanyakan tips kesehatan traveler fokus pada apa yang dilakukan selama di perjalanan. Padahal persiapan sebelum berangkat juga ngaruh banget.
1. Pakai kaus kaki yang salah
Kaus kaki ketat dengan karet elastis kuat itu kelihatan sepele, tapi bisa bikin aliran darah di pergelangan kaki terhambat. Apalagi kalau perjalananmu lama dan kamu nggak pernah melepas sepatu. Gue pernah pakai kaus kaki sport yang karetnya masih kencang banget, dan setelah enam jam, kaki gue bengkak plus kesemutan. Sejak itu, gue selalu pilih kaus kaki longgar kalau mau perjalanan jauh.
2. Sarapan terlalu berat dan langsung duduk lama
Makan besar tepat sebelum naik kendaraan bikin tubuh fokus mencerna. Darah banyak mengalir ke saluran cerna, sementara kaki yang nggak bergerak makin sedikit dapat aliran darah. Bukan berarti nggak boleh sarapan, ya. Cuma, porsinya jangan brutal dan usahakan ada jeda sebelum benar-benar duduk diam berjam-jam.
3. Nggak sempat jalan sebentar sebelum berangkat
Ini kelihatan nggak penting, tapi gue ngerasain bedanya. Kalau sebelum naik bus atau pesawat gue sempat jalan keliling terminal atau stasiun sekitar lima sampai sepuluh menit, kaki gue terasa jauh lebih "siap" duduk lama. Sebaliknya, kalau gue langsung duduk dari rumah ke kursi kendaraan, kesemutan datang lebih cepat.
Hal Receh yang Bisa Kamu Lakuin di Tengah Perjalanan
Nggak perlu alat gym atau gerakan ribet. Beberapa hal di bawah ini bisa kamu lakuin tanpa bikin penumpang sebelah curiga.
- Gerakkan pergelangan kaki tiap satu jam. Putar-putar ujung kaki ke atas-bawah kayak lagi nginjak pedal gas pelan-pelan. Simpel, tapi bantu darah tetap jalan.
- Jangan lipat satu kaki di bawah bokong terlalu lama. Kalau memang nyaman, coba selang-seling. Kasih waktu kaki "bernapas" dalam posisi normal.
- Minum air putih tetap jalan. Jangan takut ke toilet. Ke toilet justru kesempatan bagus buat jalan sebentar dan ngeregangan kaki.
- Longgarkan tali sepatu. Kalau sepatu kamu bertali, sesekali longgarkan sedikit. Kaki yang bengkak karena duduk lama bakal lebih nyaman.
- Berdiri dan jalan ke lorong kalau memungkinkan. Di kereta atau pesawat, momen ke toilet atau sekadar ambil minum bisa dipakai buat melangkah beberapa meter.
Kesemutan yang datang terus-terusan di setiap perjalanan panjang itu bukan takdir. Sering kali itu sinyal bahwa ada kebiasaan kecil yang perlu diubah.
Yang Sering Diabaikan Setelah Sampai Tujuan
Nah, ini yang paling jarang dibahas. Begitu sampai tujuan, kebanyakan orang langsung buru-buru jalan-jalan atau lanjut kerja. Padahal tubuh baru aja "dipaksa" duduk diam berjam-jam. Otot kaki kaku, aliran darah belum normal, dan tiba-tiba disuruh jalan jauh.
Gue belajar dari pengalaman: setelah perjalanan panjang, luangkan lima menit buat berdiri, jalan santai di tempat, dan angkat tumit berulang-ulang. Kedengarannya receh banget, tapi efeknya ke seluruh badan kerasa. Kaki nggak langsung pegal, dan badan lebih cepat "nyala" lagi.
Selain itu, jangan langsung ngopi atau minum yang manis-manis banget setelah perjalanan panjang. Tubuh yang dehidrasi lebih butuh air putih dulu. Kopi boleh, tapi setelah minum air yang cukup. Ini kebiasaan kecil yang gue ubah dan lumayan ngaruh ke tingkat capek setelah perjalanan.
Intinya, kesehatan sehari-hari saat bepergian itu bukan soal bawa obat lengkap atau ritual ribet. Sering kali justru soal hal-hal yang kita anggap nggak penting: kaus kaki, posisi kaki, minum air, dan lima menit jalan santai. Kalau kamu sering bepergian, coba perhatiin satu-dua hal dari daftar di atas. Mungkin kesemutan yang selama ini kamu anggap "biasa aja" bakal jauh berkurang.
Gue sendiri masih belajar, kok. Tapi sejak mulai sadar soal hal-hal receh ini, perjalanan panjang gue jadi jauh lebih nyaman. Kaki nggak lagi protes tiap turun dari kendaraan. Lumayan banget buat yang hobi jalan-jalan kayak gue.