Malam itu jam sebelas lewat, gue duduk di lantai kamar kos sambil ngitung uang di dompet. Bukan buat beli kuota atau jajan, tapi buat nebak apakah sisa uang gue cukup sampai akhir bulan. Padahal baru tanggal delapan belas. Beberapa minggu sebelumnya gue juga sempat demam dua hari gara-gara cuma makan mie instan tiga kali sehari, dan itu bikin gue bolos kuliah plus kehilangan uang buat beli obat. Dua kejadian itu yang akhirnya bikin gue sadar: hidup mandiri bukan soal bisa masak atau bayar sewa, tapi soal ngurus diri sendiri di hal-hal yang kelihatannya sepele.
Gue nulis ini bukan karena udah jadi ahli. Justru sebaliknya, gue nulis karena gue udah salah duluan. Mungkin kamu yang baru pindah kos atau baru mulai kerja dan tinggal sendiri bisa belajar dari kekacauan gue tiga bulan pertama.
Baca juga: Diam-Diam Menggerogoti, Mahasiswa Rantau Bisa Mulai dari 3 Hal Ini
Air putih yang selalu gue lupakan
Ini konyol, tapi nyata. Di rumah dulu, ibu gue selalu nyodorin gelas air tanpa diminta. Di kos, nggak ada yang nyodorin apa-apa. Gue baru sadar minum cuma dua gelas sehari waktu bibir gue pecah-pecah dan kepala sering pusing sore hari. Padahal botol air mineral satu liter itu cuma sepuluh ribu, dan gue sanggup beli kopi kekinian dua kali seminggu.
Yang akhirnya nolongin gue bukan aplikasi pengingat minum atau botol mahal. Cuma satu botol besar yang gue taruh persis di samping kasur, di jalur gue bangun tidur. Kalau airnya kelihatan, gue minum. Kalau nggak kelihatan, ya udah, lupa. Kadang solusi paling murah memang yang paling nggak keren.
Tidur yang gue kira cukup, ternyata nggak
Gue sempat bangga bisa tidur jam dua pagi dan bangun jam tujuh, terus ngerasa "kan enam jam, cukup lah." Yang gue nggak sadar, tubuh gue nggak dihitung pakai matematika sederhana. Beberapa minggu jalan, gue jadi gampang marah, susah fokus baca materi, dan yang paling parah: gue jadi doyan ngemil tengah malam karena lelah. Berat badan naik dua kilo dalam sebulan tanpa gue sadari.
Yang gue ubah bukan langsung tidur jam sepuluh (itu mustahil buat gue). Gue mulai dari satu hal: matiin lampu kamar jam sebelas malam, apa pun yang lagi gue kerjain. Kadang masih lanjut main HP di kasur, jujur aja. Tapi ruangan yang gelap bikin mata cepat capek, dan tanpa sadar gue ketiduran lebih cepat. Perlahan jam tidur gue maju sendiri, nggak dipaksa.
Kebiasaan kecil nggak butuh motivasi besar. Dia butuh lingkungan yang bikin kamu susah ngelakuin hal sebaliknya.
Duduk kelamaan dan remehnya jalan kaki
Anak kos punya pola gerak yang aneh: duduk belajar berjam-jam, duduk main laptop, duduk makan, lalu tidur. Badan gue sempat pegal-pegal di bagian punggung dan leher, dan gue kira itu karena kasur. Ternyata lebih karena gue hampir nggak pernah berdiri.
Gue nggak langsung langganan gym, karena jelas nggak sanggup bayarnya. Yang gue lakuin cuma dua hal: tiap satu jam belajar, gue berdiri dan jalan ke dapur buat isi air, dan kalau beli makan ke warung yang jaraknya masih bisa dijangkau kaki, gue jalan. Nggak sampai sebulan, punggung gue jauh lebih enak. Dan bonusnya, gue jadi lebih kenal warung-warung sekitar yang harganya lebih murah dari yang biasa gue datangi.
Kenapa hal sekecil ini ngaruh banget
Karena tubuh kita nggak merespons satu keputusan besar, tapi merespons pola yang diulang tiap hari. Minum air dua gelas sehari selama sebulan itu enam puluh gelas yang hilang. Duduk delapan jam sehari selama setahun itu ribuan jam tanpa gerak. Sebaliknya, satu kebiasaan kecil yang bener dan diulang terus hasilnya juga menumpuk, cuma arahnya ke sisi yang bagus.
Makan asal kenyang, bukan asal murah
Ini pelajaran paling mahal buat gue. Awal kos, gue mikirnya hemat: mie instan, nasi plus kerupuk, gorengan. Murah, kenyang, selesai. Tapi biaya berobat waktu gue demam, ditambah uang yang hilang karena nggak bisa masuk, jauh lebih besar dari selisih harga sayur dan telur. Gue baru ngerti arti "makan murah" yang sebenarnya.
Sekarang gue nggak makan mewah, tapi gue usahain tiap kali masak atau beli makan ada satu sumber protein murah dan satu sayur. Telur, tempe, tahu, sama sayur yang lagi murah di pasar. Nggak ribet, nggak butuh resep. Kadang cuma telur dadar plus tumis kangkung, dan itu udah bikin badan gue kerasa beda dibanding zaman mie instan.
Nggak semua keluhan harus ditahan
Yang terakhir ini bukan soal makanan atau tidur, tapi soal kebiasaan nganggep remeh keluhan sendiri. Gue tipe orang yang mikir "ah cuma pusing, nanti juga hilang." Sampai suatu hari pusingnya nggak hilang tiga hari dan gue baru sadar harus ke klinik. Biayanya ternyata nggak semahal yang gue takutkan, dan yang paling penting: gue jadi tahu penyebabnya, bukan nebak-nebak sendiri.
Buat kamu yang baru hidup mandiri, mungkin kamu juga masih suka nunda-nunda hal kayak gini karena takut ribet atau takut mahal. Saran gue simpel: cari tahu dulu, jangan diasumsikan. Kadang yang bikin kita sakit bukan penyakitnya, tapi kebiasaan nunda sampai badan nggak bisa diajak kompromi lagi.
Gue nggak akan bilang hidup mandiri itu gampang setelah ngelakuin lima hal ini. Tapi setidaknya sekarang gue nggak lagi ngitung uang di lantai kamar sambil nahan pusing. Dan buat gue, itu udah kemajuan yang lumayan.