Dua tahun lalu, tiap bangun pagi rasanya kayak habis diinjak truk. Badan pegal, kepala berat, dan semangat kayak HP yang baterainya tinggal 5 persen. Aku pikir itu wajar, namanya juga ibu rumah tangga dengan dua anak dan kerjaan yang nggak ada habisnya. Ternyata oh ternyata, penyebabnya bukan kerjaan. Penyebabnya kebiasaan-kebiasaan kecil yang aku lakukan tiap hari tanpa sadar.
Yang bikin aku kaget, perubahan besar itu nggak datang dari olahraga mahal atau suplemen yang harganya bikin dompet menjerit. Justru dari hal-hal yang ada di dapur rumahku sendiri. Ini ceritaku.
Garam yang Terlalu Royal di Dapur
Aku ini tipe yang kalau masak, garamnya suka asal tuang. Menurutku kalau kurang asin, rasanya hambar dan anak-anak nggak mau makan. Jadi ya, aku tuang banyak-banyak biar aman. Suami pernah bilang, "Sayurmu kok asin banget?" Aku cuma ketawa dan bilang besok dikurangi. Tapi besoknya ya sama aja.
Baca Juga: jaspasjunk.com
Baca juga: 5 Tanda Awal Tubuhmu Berontak, Sering Traveling Wajib Curiga
Nah, suatu hari aku ikut posyandu bareng tetangga. Iseng cek tekanan darah, dan angkanya bikin aku melongo. Bukan kritis sih, tapi sudah di batas atas. Petugasnya tanya, "Sehari masak pakai garam berapa?" Aku jawab seadanya. Dia cuma senyum dan bilang, "Coba dikurangi sedikit-sedikit, Bu. Nggak usah langsung drastis."
Aku mulai ngurangin garam pelan-pelan. Awalnya anak-anak protes, suami juga. Tapi aku akalin pakai rempah-rempah lain: bawang putih lebih banyak, sedikit jahe, kadang kunyit. Lama-lama lidah kami terbiasa. Dan yang paling terasa? Badan nggak gampang lemas lagi di sore hari. Ternyata garam berlebih itu bikin tubuh kerja ekstra, dan aku baru sadar setelah merasakan bedanya.
Minum Air Putih yang Selalu Ditunda
Ini kebiasaan burukku yang paling parah. Aku selalu minum air putih paling banyak cuma saat makan. Di luar itu? Nggak kepikiran. Kalau haus, ya minum teh manis atau kopi. Logikaku waktu itu sederhana: yang penting masuk cairan, kan?
Pernah suatu hari aku hampir pingsan di pasar. Kepala pusing, pandangan berkunang-kunang. Aku kira masuk angin, ternyata setelah ke klinik, tensiku rendah dan aku dehidrasi ringan. Dokternya cuma bilang, "Ibu kurang minum air putih ya?" Aku malu sendiri.
Dari situ aku belajar satu hal: teh dan kopi itu bukan pengganti air putih. Tubuh kita butuh air, bukan cuma cairan.
Sekarang aku taruh botol air minum di meja dapur, di kamar, dan di tas. Tiap kali lihat, aku minum. Nggak nunggu haus. Efeknya? Kulit nggak kusam lagi, sembelit yang dulu langganan juga hilang. Kecil banget kan kelihatannya, tapi dampaknya ke seluruh badan.
Duduk Terlalu Lama Tanpa Sadar
Sebagai ibu rumah tangga, aku pikir aku ini aktif banget. Nggak pernah duduk diam, kan? Ternyata salah. Aku memang sibuk, tapi sibuknya sering dalam posisi duduk: nyetrika sambil duduk, lipat baju sambil duduk, nemenin anak belajar sambil duduk, main HP sambil duduk. Total bisa 5-6 jam sehari hanya duduk.
Punggungku mulai protes. Nyeri di bagian bawah, kadang sampai menjalar ke kaki. Aku kira karena kecapekan, ternyata karena terlalu lama duduk dengan postur yang nggak bener.
Solusinya sepele banget. Tiap 30 menit, aku berdiri, jalan ke dapur, ambil minum, atau sekadar keliling rumah. Kalau nyetrika, aku selang-seling: 15 menit duduk, 15 menit berdiri. Nggak perlu olahraga berat, cuma nggak duduk kelamaan. Dalam dua minggu, nyeri punggungku jauh berkurang. Suamiku sampai heran, "Kok kamu nggak ngeluh sakit punggung lagi?"
Hal Kecil yang Sering Dilupakan: Tidur
Nah, ini yang paling berat buatku. Sebagai ibu rumah tangga, malam itu satu-satunya waktu buat diri sendiri. Anak-anak sudah tidur, suami sudah tidur, dan aku akhirnya bisa nonton drama atau scroll HP dengan tenang. Akibatnya, tidurku sering lewat tengah malam.
Padahal, kurang tidur itu efeknya ke mana-mana. Aku jadi gampang marah, susah fokus, dan yang paling kelihatan: makan jadi nggak terkontrol. Kalau kurang tidur, besoknya aku cari makanan manis terus. Ternyata itu bukan sekadar kebiasaan, tapi respons tubuh yang kurang energi.
Aku mulai bikin aturan sendiri: jam 10 malam, HP ditinggal di ruang tamu. Nggak langsung berhasil sih, awalnya masih suka ngambil HP lagi. Tapi pelan-pelan, tubuhku terbiasa tidur lebih awal. Pagi bangunnya lebih segar, dan yang paling penting, mood-ku jauh lebih stabil. Anak-anak juga ngerasa kok bundanya sekarang nggak gampang ngamuk.
Pelajaran yang Aku Dapat
Kalau dipikir-pikir, nggak ada satu pun dari kebiasaan di atas yang berat atau mahal. Nggak ada gym, nggak ada alat fitness, nggak ada suplemen. Semuanya ada di keseharian, di dapur, di kamar, di kebiasaan yang sering kita anggap remeh.
Yang paling aku pelajari: tubuh itu jujur. Kalau kita perlakukan dengan sembarangan tiap hari, dia akan bilang lewat pegal, lemas, atau mood yang naik-turun. Tapi sebaliknya, kalau kita rawat lewat hal-hal kecil, hasilnya juga kerasa pelan-pelan.
Buat kamu yang juga ibu rumah tangga dan mungkin ngerasa capek terus tanpa tahu sebabnya, coba deh intip kebiasaan kecilmu. Mungkin bukan kurang olahraga, tapi kurang minum. Mungkin bukan kurang istirahat, tapi kebanyakan duduk. Perubahan nggak harus dimulai dari yang besar, kok. Kadang justru dari hal yang paling sepele di rumah sendiri.
Aku nggak bilang hidupku sekarang sempurna. Masih ada hari-hari di mana aku makan gorengan dan tidur larut. Tapi setidaknya aku sudah tahu apa yang harus diperbaiki, dan itu sudah cukup buat bikin badan terasa lebih ringan tiap pagi.